Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis

Penginderaan jauh atau lebh dikenal dengan istilah Remote Sensing dan GIS atau Geographic Information System, merupakan salah satu teknologi yang berkembang cukup pesat belakangan ini. Semakin banyak vendor yang berlomba menyediakan jasa untuk menunjang penggunaan dan pengembangan teknologi ini. RS (Remote Sensing) dan GIS banyak digunakan terutama pada sektor yang berhubungan dengan Geo-Spasial.
Keteliatian atau akurasi dari teknologi ini sudah tidak diragukan lagi. Saat ini, citra satelit dengan resolusi ter-akurat yang digunakan dalam RS dan GIS adalah WorldView dan GeoEye, masing-masing memiliki ketelitian hingga 0,5 m (pixelspacing = 0,5m) sedangkat perangkat keras penentu lokasi alias GPS ter-akurat sudah memiliki akurasi hingga di bawah 50 cm. Namun demikian, tepat atau tidaknya hasi dari RS dan GIS ini kembali bergantung pada tingkat keahlian sumberdaya manusia dan media yang digunakan untuk mengolahnya.

STOK

PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN

Karaktersitik lainnya dari sumberdaya Ikan adalah bersifat “open access” dan “common property.” Artinya pemanfaatanya bersifat terbuka, oleh siapa saja, dan kepemilikannya bersifat umum Sifat ini menimbulkan beberapa konsekwensi, a.l.:
a. Tanpa adanya pengelolaan akan menimbulkan gejala eksploitasi berlebihan (overexploitation), investasi berlebihan (overinvestment) dan tenaga kerja berlebihan (overemployment);
b. Perlu adanya hak kepemilikan (property rights), misalnya oleh negara (state property rights), oleh komunitas (community property rights), oleh swasta/perseorangan (private property rights).
c. Sifat lain dari sumberdaya ikan adalah: mampu pulih, dapat diperbaharui, mampu memperbaharui diri (renewable, replenishable), dan kadang-kadang dapat bersifat menipis, kelelahan (depletable, exhaustible).

Konsep Keseimbangan Stok atau Konsep MSY

M+Y) = (R+G), maka B2 = B1, ini berarti stok berada dalam keadaan seimbang, atau merupakan keadaan ideal yang ingin dicapai dalam pengelolaan perikanan;

Underfishing dan Overfishing

Kurva sebelah kiri titik (M+Y)=(R+G) menunjukkan keadaan-keadaan dimana (M+Y)<(R+G) yang menghasilkan B2(R+G) sehingga B2>B1. Dalam hal ini dikatakan bahwa stok ikan ada dalam keadaan tangkap lebih (overfishing).

Gejala Overfishing

Komposisi hasil tangkap (catch) menunjukkan lebih banyak individu-individu muda dari pada individu dewasa dan tua;
“hasil tangkap per unit upaya” (“catch per unit of effort”, CPUE) makin menurun dengan meningkatnya upaya tangkap (fishing effort).

Tindakan Pengelolaan

Secara umum melaksanakan pengelolaan lingkungan (environmental management)
Secara khusus melindungi bagian-bagian perairan yang digunakan ikan sebagai jalur migrasi untuk memijah atau tumbuh menjadi besar.
Secara khusus melindungi perairan-perairan yang digunakan sebagai tempat- tempat berpijah atau tempat-tempat anak ikan tumbuh besar.
Mencegah penangkapan telor dan larvae ikan serta ikan-ikan juvenil.

Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP)

Untuk kepentingan pengelolaan sumberdaya ikan, perairan Indonesia dibagi menjadi 10 wilayah pengelolaan perikanan (WPP), yaitu: (1) WPP Selat Malaka, (2) WPP Laut Cina Selatan, (3) WPP Laut Jawa, (4) WPP Laut Flores-Selat Makasar, (5) WPP Laut Banda, (6) WPP Laut Arafura, (7) WPP Teluk Tomini dan Laut Maluku, (8) WPP Samudera Pasifik dan Laut Sulawesi, (9) WPP Samudera Hindia A (Barat Sumatera), (10) WPP Samudera Hindia B (Selatan Jawa-Nusa Tenggara).

Tujuan Pengelolaan

1.menjaga kelestarian produksi terutama melalui berbagai regulasi serta tindakan perbaikan (enhancement);
2.meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial nelayan;
3.Memenuhi keperluan industri yang memanfaatkan produksi tersebut.

Pengkajian Stock vs Pengelolaan Perikanan

-Stock Assessment diperlukan untuk membantu pihak pengelola perikanan dalam memilih alternatif kebijakan dengan memberikan bukti-bukti ilmiah.
-Dengan demikian, stock assessment harus didukung oleh data yang akurat, dapat dipercaya dan tepat waktu yang datang dari seluruh stakeholder.
-Stock assessment tanpa didukung oleh data yang akurat dan dapat dipercaya tidak lebih dari sekedar tebak tebakan

Metode Pengkajian Stok

Secara umum ada dua kelompok utama model-model yang digunakan dalam pengkajian stok, yaitu:

1. Model Holistik: – Model Produksi Surplus (Surplus Production Model)
2. Model Analitik: – Model Yield per Recruit

Model Produksi Surplus menggunakan “hasil tangkapan per satuan upaya” (misalnya berat ikan yang tertangkap per jam tarikan trawl) sebagai masukan. Data tersebut biasanya meruapakan data runtun waktu tahunan dan berasal dari hasil penarikan contoh perikanan komersial. Modelnya didasarkan atas asumsi bahwa biomassa ikan di laut proporsional dengan hasil tangkapan per unit upaya

Tujuan: Menentukan tingkat upaya optimum, yaitu suatu upaya yang dapat menghasilkan suatu hasil tangkapan maksimum yang lestari tanpa mempengaruhi stok dalam jangka panjang (MSY).

Metode Pengkajian Stok Lainnya

Metode Sensus (Metode Penghitungan Langsung)
Digunakan untuk mendapatkan estimasi ukuran populasi absolut
Metode ini dilaksanakan dengan cara menghitung jumlah individu dalam bagian tertentu dari wilayah yang dihuni oleh stok yang bersangkutan.

Metode Luas Sapuan (Swept Area Method)
Untuk menentukan densitas sumber perikanan demersal;
Menggunakan data dari hasil survei penangkapan dengan menggunakan trawl;

Metode Akustik (Acoustic Method)
Untuk menentukan densitas sumber perikanan pelagis;
Menggunakan data dari hasil survei penangkapan dengan menggunakan “acoustic instruments” (fish finder, echosounder, sonar);
Prinsip: Gelombang suara dapat merambat dengan baik dalam air laut dan gema yang dipantulkannya dapat dicatat oleh suatu “recorder.”

PENGKAJIAN STOK IKAN BERUAYA

KONSEP STUDI RUAYA
Tiga jenis pergerakan ruaya
hanyut dengan arus, Pergerakan – pergerakan lokomotor acak, Pergerakan -pergerakan lokomotor berorientasi.
kebanyakan ruaya yang sebabkan bias : gerakan – gerakan horizontal, sepanjang pantai, di pantai/lepas pantai, antara sungai – sungai, daerah laut.
Ruaya yang sebabkan bias diklasifikasikan dalam 5 jenis utama :
1. ruaya tegak lurus harian
2. ruaya horizontal harian
3. ruaya untuk memijah
4. ruaya vertikal menurut ukuran
5. ruaya horizontal menurut ukuran
6. ruaya yuwana
BIAS karena Ruaya
1. Percaya bahwa seluruh stok berada pada daerah penangkapan sepanjang tahun
2. Pendugaan parameter pertumbuhan
3. Tidak ada ikan kecil karena seleksi alat
4. Pertumbuhan negatif
5. Ikan pada daerah penangkapan sama sepanjang waktu

SELECTIVITY OF FISHING GEAR

Tidak semua alat tangkap dapat menangkap ikan pada semua ukuran

alat tangkap mempunyai selektivitas yang beda

 Trawl = jumlah ikan kecil yang tertangkap < ikan besar
 gill net = ikan sangat kecil & besar tidak tertangkap
 pancing = memperoleh kisaran ukuran tertentu

REKRUTMEN

DEFINISI
Umum → Rekrutmen = penambahan anggota baru ke dalam suatu kelompok
Khusus →Rekrutmen = penambahan anggota baru ke dalam suatu populasi
Perikanan → Rekrutmen = penambahan suplai baru ke dalam stok lama yang sudah ada dan sedang dieksploitasi:
-ikan yang dapat ditangkap = eksploitable
-ikan secara menyeluruh
-induk yang matang telur
Rekrutmen adalah hasil reproduksi, sehingga ada hubungan antara stok dewasa dan rekrutnya.
-Eksploiter → Rekrutmen : masuknya ikan-ikan muda ke dalam populasi yang terbuka untuk dieksploitasi.
-Manajer perikanan → Rekrutmen : total persediaan induk

MACAM-MACAM REKRUTMEN
Aziz ’89 :
1. Rekrutmen ke suatu stok
2. Rekrutmen ke suatu stok yang dapat ditangkap
3. Rekrutmen ke suatu stok dewasa

HUBUNGAN STOK DENGAN REKRUTMEN

Jika tidak ada spawner maka tidak ada rekrutmen
Semua populasi mempunyai kemampuan untuk tumbuh.
Jika stok dewasa sedikit → rekrut rendah.
Jika stok dewasa banyak → rekrut rendah

KONSEP KESEIMBANGAN STOK

Muncul krn kesadaran akan terbatasnya biomassa stok ikan kuantitas stok sebenarnya terbatas dan bahkan dapat punah sama sekali jika tidak dieksploitasi dengan hati-hati

biomassa sebuah stok akan tetap stabil dalam suatu periode tertentu bila dalam periode tsb penambahan biomassa stok sama dengan pengurangan biomassa stok

Eksploitasi berlebih

Growth Overfishing=Ikan tertangkap sebelum mencapai ukuran yang dapat mendukung
biomasa=total tangkapan menurund dengan bertambahnya upaya.
Recruitment Overfishing=Ikan muda tertangkap-stok induk menurun sampai tingkat yang sangat rendah

MATERI BUDIDAYA LAUT ( TUGAS )

KELOMPOK :
Enjang Hernandi H 230210080068
Jimy Kalther 230210080049
Reza M. Azhar 230210080007
Alfian Nurrachman 230210080071
Andy Catur 2302100700
Gusti Septiandina 230210080002

materi budidaya laut lebih lengkapnya dapat didownload di sini

SEJARAH BUDIDAYA LAUT
Awal budidaya laut atau marikultur di Indonesia ditandai dengan adanya keberhasilan budidaya mutiara oleh perusahaan Jepang pada tahun 1928 di Buton- Sulawesi Tenggara. Selanjutnya, awal tahun 1970-an dilakukan percobaan dan pengembangan budidaya rumput laut (Euchema sp.) di Pulau Samaringa-Sulawesi Tengah, dengan adanya kerjasama antara Lembaga Penelitian Perikanan Laut dan perusaan Denmark. Sementara itu, awal tahun 1980-an banyak pengusaha ekspor ikan kerapu hidup di Kepulauan Riau membuat karamba jaring tancap serta karamba jaring apung sebagai tempat penampungan ikan kerapu hidup hasil tangkapan sebelum di ekspor ke Singapura dan Hongkong. Adapun perkembangan budidaya laut khususnya dalam karamba jaring apung (KJA) dipicu oleh keberhasilan pembenihan ikan bandeng dan ikan kerapu di hatchery secara massal pada tahun 1990-an di Loka Penelitian Budidaya Pantai di Gondol Bali.
Mengapa?
Banyak sekali tujuan yang menjadi target pencapaian dalam pelaksanaan budidaya laut, diantaranya adalah:
1. Efektif dan efisien
2. Menghasilkan komoditas yang lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Dengan adanya metode budidaya yang sesuai terhadap suatu jenis komoditas laut, diharapkan bisa merubah komoditas tersebut baik dari segi kualitas maupun kuantitas jika dibandingkan dengan komoditas lain yang sama yang hidup bebas di alam
3. Potensi
4. Memberdayakan masyarakat
5. Menjaga kelestarian ekosistem di alam

PRINSIP DASAR BUDIDAYA LAUT
Kegiatan budidaya laut pada dasarnya sama dengan budidaya perikanan darat. Budidaya laut merupakan kegiatan yang baru di dunia perikanan. Beberapa alasan budidaya laut bisa berkembang, diantaranya sumber day aikan yang ditangkap sudah menurun sehingga nelayan beralih ke budidaya, budidaya perikanan di darat banyak menglami hambatan dan harga atau nilai jual komoditas budidaya laut relatif lebih tinggi dibanding dengan budidaya air tawar.

A. Pemilihan Jenis Komoditas
Ada bebereapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan pilihan b iota laut yang akan dibudidayakan, diantaranya aspek permintaan pasar, pasok benih, sediaan teknologi budidaya, sediaan lahan, dan kemungkinan timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan. Pertimbangan untuk memilih komodit as laut yang akan dibudidayakan :
1. Sebaikknya mengembangkan spesies asli/ lokal daripada introduksi atau impor.
2. Memilih spesies yang sesuai dengan permintaan pasar.
3. Diversifikasi spesies budidaya diprioritaskan pada ikan pemakan plankton dan ikan herbivora. Jumlahnya lebih banyak daripada ikan karnivora.
4. Jenis ikan pelagis lebih mudah dibudidayakan dilihat dari penerapan teknologinya dibandingkan dengan ikan demersal.
5. Ikan yang tidak hanya bisa bernafas dengan insang atau ikan yang mempunyai labirin lebih mudah pemeliharaan dan tidak memerlukan mutu air yang baik.
6. Ikan yang teknologi pembenihannya sudah maju sehingga pasokan benih baik jumlah dan kualitasnya tersedia setiap saat.
7. Seluruh siklus hidup ikan budidaya harus dapat dikontrol dan teknologinya sudah dikuasai.

Banyak jenis biota laut yang sudah biasa dibudidayakan, seperti jenis ikan, krustasea, moluska, echinodermata, dan rumput laut. Ikan yang sudah biasa dibudidayakan adalah :
1. Kerapu bebek
2. Kerapu macan
3. Kerapu lumpur
4. Kakap merah
5. Baronang
6. Nila merah
7. Bandeng
8. Cobia
9. Kerapu sunu
10. Dan lain-lain
Jenis udang yang biasa dibudidayakan antara lain :
1. Udang windu
2. Udang barong
Sedangkan jenis-jenis moluska yang senantiasa dibudidayakan antara lain :
1. Tiram daging
2. Tiram mutiara
3. Kerang hijau
4. Kerang darah
5. Kerang abalon
6. Tiram mabe
7. Dan lain-lain

B. Pemilihan Lokasi
Sebagai langkah awal budidaya laut adalah pemilihan lokasi budidaya yang tepat. Oleh karena itu, pemilihan dan penentuan lokasi budidaya harus didasarkan pertimbangan ekologis, teknis, higienis, sosio-ekonomis, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemilihan lokasi sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan gabungan beberapa faktor yang dikaji secara menyeluruh.
1. Persyaratan teknis
Sesuai dengan sifatnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi perairan, lingkungan bagi kegiatan budidaya laut dalam keramba jaring apung sangat menentukan keberhasilan usaha. Pemilihan lokasi yang baik harus memperhatikan aspek fisika, biologi, dan kimia perairan yang cocok untuk biota laut. Selain itu, pemilihan lokasi perlu juga mempertimbangkan aspek efisiensi biaya operasional budidaya.
2. Persyaratan sosial-ekonomi
Berikut beberapa aspek sosio ekonomi yang perlu mendapat perhatian dalam pemilihan dan penentuan lokasi.
a) Keterjangkauan lokasi. Lokasi budidaya yang dipilih sebaiknya adalah lokasi yang mudah dijangkau.
b) Tenaga kerja. Tenaga kerja sebaiknya dipilih yang memiliki tempat tinggal berdekatan dengan lokasi budidaya, terutama pemberdayaan masyarakat dan nelayan.
c) Sarana dan pra sarana. Lokasi budidaya sebaiknya berdekatan dengan sarana dan prasarana perhubungan ynag memadai untuk mempermudah pengangkutan bahan, benih, hasil dan lain-lain.
d) Kondisi masyarakat. Kondisi masyarakat yang lebih kondusif akan memungkinkan perkembangan usaha budidaya laut di daerah tersebut.
3. Persyaratan non-teknis
Persyaratan non-teknis yang harus dipenuhi dalam pemilihan lokasi adalah :
a) Keterlindungan. Lokasi budidaya harus terlindung dari bahaya fisik yang dapat merusaknya. Misalnya gelombang besar dan angin. Oleh karena itu, lokasi budidaya biasanya dipilih di tempat yang terlindung atau terhalang oleh pulau.
b) Keamanan lokasi. Masalah pencurian harus dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi budidaya agar proses budidaya aman dan tidak terganggu.
c) Konflik kepentingan. Lokasi budidaya tidak boleh menimbulkan konflik kepentingan, misalnya, antara kegiatan perikanan dan nonperikanan (pariwisata).
d) Aspek peraturan dan perundang-undangan. Pemilihan lokasi harus sesuai dan tidak melanggar peraturan agar budidaya dapat berkelanjutan.

C. Teknis Budidaya
Berbeda dengan budidaya air tawar, komoditas budidaya laut cukup banyak. Selain itu, metode atau teknologi budidaya laut lebih beragam, mulai dari pemanfaatan lahan dasar, penggunaan jaring atau rak tancap ( pen Culture ), Keramba Jaring apung.
a) Jaring Tancap
Jaring tancap ( pen Culture ) biasanya dipasang di bawah ( kolong ) rumah nelayan di pinggir pantai atau dipasang di tengah laut pada kedalaman 2-8 meter waktu surut terendah. Jaring tancap merupakan jaring kantong berbentuk persegi yang dipasang pada kerangka bambu atau kayu yang ditancap pada dasar perairan. Pasangan kayu / bambu ditancap rapat, seperti pagar, atau hanya dipasang di bagian sudut kantong jaring. Jaring sebagai lapisan dalam diikatkan pada kayu.
b) Keramba jaring apung
Keramba Jaring Apung ( KJA ) dapat dibuat dalam berbagai ukuran. Desain dan bahan tergantung pada kemudahan penanganan, daya tahan bahan baku,harga, dan faktor lainnya. Jaring atau wadah untuk pemeliharaan ikan di laut dibuat dari bahan polietilen. Bentuk dan ukuran bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran ikan, kedalaman perairan, serta faktor kemudahan dalam pengelolaan.

BUDIDAYA RUMPUT LAUT
Rumput laut merupakan sumber utama penghasil agar-agar, alginat dan karaginan yang banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, kosmetik, farmasi dan industri lainnya, seperti industri kertas, tekstil, fotografi, pasta dan pengelengan ikan.
Beberapa jenis rumput laut yang telah berhasil di budidayakan dan telah berkembang dengan baik di tingkat pembudidaya adalah Kappaphycus alvarezii dan euchema denticulatum yang di pelihara di perairan pantai (laut).

A. Pemilihan lokasi budidaya
Pertumbuhan rumput laut ditentukan oleh kondisi perairan sehingga kondisi rumput laut cenderung bervariasi dari lokasi budidaya yang berbeda.
Karakteristik ekologi suatu lokasi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha rumput laut. Parameter yang perku di oerhatikan adalah sebagai berikut:
1. Arus
Rumput laut merupakan tanaman yang memperoleh makanan (unsur hara) melalui aliran air yg melewatinya. Kecepatan arus yang baik untuk budidaya adalah 20-40 cm/detik.
2. Dasar Perairan
Dasar perairan berupa pecahan karang dan pasir karang merupakan kondisi dasar perairan yang sesuai dengan budidaya rumput laut.
3. Kedalaman
Kealaman perairan sangat tergantung dengan metode budidaya yang akan di pilih. Pemilihan kedalaman perairan yang tepat dilakukan untuk manghindari kekeringan dan mengoptimalkan pencapaian sinar matahari ke rumput laut.
4. Kadar Garam
Kadar garam yang sesuai untuk pertumbuhan rumput laut berkisar antara 28-35 g/Kg
5. Kecerahan
Lokasi budidaya rumput laut sebaiknya pada perairan yang jernih dengen tingkat kecerahan yang tinggi.
6. Ketersediaan bibit
Bibit rumput laut yang berkualitas sebaiknya tersedia di sekitar lokasi budidaya yang di pilih, baik yang bersumber dari alam maupun dari budidaya sendiri.
7. Orgaisme Pengganggu
Lokasi budidaya diusahakan pada lokasi yang tidak banyak terdapat organisme pengganggu, seperti ikan baronang, bintang laut, bulu babi, dan penyu.

B. Metode Budidaya
1. Metode Lepas Dasar
Metode ini dilakukan di atas dasar perairan yang berpasir atau pasir berlumpur dan tyerlindung dari hempasan gelombang yang besar. Hal ini penting untuk memudahkan pamasagan patok . biasanya lokasi dikelilingi oleh karang pemecah gelombang. Selain itu, sebaiknya memiliki kedalaman air sekitar 50cm pd surut terendah dan 3m pada saat pasang tertinggi.
2. Metode Rakit Apung
Merupakan budidaya rumput laut dengan cara mengikat rumput laut pada tali ris. Yang diikat pada rakit apung yang terbuat dari bambu. Satu unit rakit apung berukuran 2,5 m – 5 m. Tanaman harus selalu berada sekitar 30-50 cm dibawah permukaan air laut.
3. Metode Rawai
Metode ini dikenal dengan metode long line yang menggunakan tali panjang yang di bentangkan. Metode ini merupakan salah satu metode permukaan yang paling banyak di minati pembudidaya. Alat dan bahan yang digunakan dalam metode ini lebih tahan lama, relatif murah, dan mudah diperoleh.
4. Metode Jalur
Metode ini merupakan kombinasi antara metode rakit dengan rawai. Kerangka metode ini ternuat dari rakit (bambu) yang tersusun sejajar. Kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali utama berdiameter 6mm sehingga membentuk persegi panjang dengan ukuran 5m – 7m per petak dengan satu unit terdiri dari 7-10 petak.
Pada kedua ujung setiap unit di beri jangkar penanaman dimulai dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur. Tali tersebut telah di lengkapi dengan tali polietilen berdiameter 0,2c sebagai pengikat bibit. Adapun jaraknya sekotar 25cm.

C. Pengolahan budidaya
1. Penyediaan bibit
Penyediaan bibit rumput laut diambil dari alam, budidaya, dan pembenihan. Budidaya rumput laut dapat mengambbil benih dari alam bila lokasi budidaya tersebut memiliki potensi bibit alam.
2. Penanganan bibit selama pengangkutan
Pengangkutan bibit selama pengangkutan dari tempat asal ke lokasi budidaya dilakukan sebagai berikut :
• Bibit harus dijaga agar tetap lembab
• Usahakan agar tidak terkena air tawar, hujan, embun, mminyak, dan kotoran lainnya karena akan merusak bibit.
• Bibit tidak boleh terkena sinar matahri
• Bibit diletakkan pada daerah yang jahu dari sumber panas, seperti mesin mobil atau perahu.
3. Penanaman bibit
Bibit yang akan ditanam dipilih yang berkualitas. Kepadatan penanaman bibit rumput laut tergantung dari jenis dan metode budidaya yang akan digunakan. Untuk budidaya Euchema sp. Bobot bibit yang digunakan sekitar 50-100 ggr per ikatan dengan jarak tidak kurang dari 25 cm.
4. Perawatan tanaman
Agar budidaya dapat dilakukan dengan baik dan berhasil maka harus dilakukan perawatan dan pemeliharaan. Perawatan bukan hanya pada tanaman itu sendiri tetapi juga pada alat-alat dan perangkat budidaya. Oleh karena itu, pengelola rumput laut sangat diperlukan untuk memperkecil kemungkinan kerusakan tanaman.
Kegiatan perawatan meliputi pembersihan lumpur, kotoran, dan biofouling yang menempel pada thallus rumput laut; penyisipan tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan; penggantian patok, pelampung dan lain-lain.

D. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama tanaman pada budidaya rumput laut umumnya merupakan organisme laut, terutama ikan baronang dan penyu yang memangsa tanaman. Secara alami, organisme tersebut hidup dengan rumput laut sebagai makanan utamanya. Hama tersebut dapat menimbulkan kerusakan fisik pada tanaman budidaya.
Penyakit ice-ice merupakan kendala utama budidaya rumput laut. Gejala ini dikenal juga dengan nama white spot. Rumput laut yang terserang penyakit itu antara lain pertumbuhan yang lambat, terjadinya perubahan warna thallus menjadi pucat atau warna tidak cerah, dan sebagian atau seluruh thallus pada beberapa cabang mengalami keputihan serta membusuk. Penyakit tersebut terutama disebabkan oleh perubahan lingkungan, seperti arus, suhu, dan kecerahan. Kecerahan air yang sangat tinggi dan rendahnya kelarutan unsur hara nitrat dalam perairan juga merupakan penyebab munculnya penyakit tersebut.

E. Panen
Waktu panen sangat ditentukan oleh waktu tanaman dalam mencapai tingkat kandungan bahan utama maksimal. Dengan demikian panen rumput laut sebaiknya dilakukan setelah mencapai pemeliharaan selama 45 hari. Namun, panen untuk rumput laut untuk bibit dilakukan pada saat umur tanaman berkisar 25-35 hari.
Panen dilakukan pada cuaca yang cerah agar kualitas rumput laut yang dihasilkan terjamin. Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ; panen selektif atau parsial dan secara keseluruhan. Panen secara selektif dilakukan dengan cara memotong tanaman secara langsung tanpa melepas ikatan dari tali ris. Keuntungan cara ini adalah penghematan tali rafia pengikat rumput laut, tetapi memerlukan waktu yang agak lama. Sementara itu panen kaseluruhan dilakukan dengan mengangkut seluruh tanaman sekaligus sehingga waktu kerja yang diperlukan lebih singkat.
Panen rumput laut secara keseluruhan pada metode lepas dasar, rakit apung, rawai, dan jalur dilakukan dengan cara berikut :
• Rumput laut dibersihkan dari kotoran atau tanaman lain yang melekat sebelum dipanen.
• Tali ris yang penuh dengan ikatan rumput laut dilepaskan dari bambu atau tali utama.
• Gulungan dari tali ris yang berisi ikatan rumput laut diletakan di sampan atau wadah transportasi lainnya.

ISTILAH-ISTILAH GELOMBANG LAUT

SHOALING

Shoaling adalah proses dimana terjadi kenaikkan tinggi suatu gelombang akibat gelombang tersebut memasuki kawasan perairan yang lebih dangkal. Tinggi gelombang bisa meningkat lebih dari dua kali amplitudo awal. Karena adanya perubahan kedalaman tersebut, maka terjadi perubahan kecepatan gelombang. Kecepatan gelombang tersebut menurun, sehingga berada pada posisi stasioner. Keadaan ini harus diimbangi oleh kepadatan energi yang meningkat. Meningkatnya kepadatan energi inilah yang menyebabkan meningkatnya ketinggian gelombang.

REFRAKSI DAN REFLEKSI

Refraksi adalah perubahan gelombang dikarenakan adanya perubahan bentuk (geometri/morfologi) dasar laut dan perubahan kedalaman laut. Ketika gelombang yang memasuki wilayah perairan pantai, kecepatan  menjalar bagian garis puncak gelombang pada perairan yang lebih dangkal akan lebih kecil dibandingkan dengan garis puncak gelombang pada kedalaman yang lebih dalam. Sehingga garis puncak gelombang akan mengalami pembelokkan sejajar dengan garis pantai.

Proses refleksi terjadi manakala gelombang yang menjalar menuju suatu rintangan dipantulkan sebagian atau seluruhnya. Besar kecilnya gelombang yang mengalami refleksi tergantung pada jenis dan bentuk rintangan.

BREAK WAVE

Gelombang pecah biasanya terjadi di daerah pantai di mana kecepatan gelombang akan menurun karena perubahan kedalaman perairan. Terdapat beberapa jenis gelombang pecah yaitu surging, plunging, dan spilling. Semua jenis tersebut dibedakan oleh dasar perairan tempat pecahnya gelombang.

Gelombang pecah itu sendiri adalah gelombang di mana amplitudonya mencapai tingkat kritis di mana beberapa proses tiba-tiba dapat mulai terjadi yang menyebabkan sejumlah besar energi gelombang untuk diubah dalam turbulen energi kinetik.

LONGSHORE CURRENT

Longshore Current adalah arus susur pantai. Arus yang menyusuri pantai, arahnya sejajar dengan garis pantai. Arus ini dibangkitkan oleh gelombang yang datang dengan sudut yang bervariasi.

RIP CURRENT

Arus balik menuju laut sering muncul di teluk akibat arus sejajar pantai yang berlawanan. Rip current adalah arus yang kuat dan bergerak menjauhi pantai. Arus ini dapat menyapu (menghanyutkan) perenang terkuat sekalipun. Arus inilah yang banyak menyebabkan kecelakaan pada saat berenang di pantai.

RESUME MATERI EKOLOGI LAUT TROPIS

OLEH :

JIMY KALTHER

230210080049

LINK : DAFTAR ISTILAH EKOLOGI LAUT TROPIS

  1. EKOSISTEM

Secara harfiah atau bahasa Ekosistem berasal dari kata dalam bahasa asing yakni Biogeocoenosis. Biogeocoenosis berasal dari dua kata yaitu Biocoenosis yang  berarti komponen Biotik dan Geocoenosis yang berarti  komponen abiotik.

Sedangkan secara istilah, ekosistem dapat dikatakan sebagai suatu sistem ekologi yang terbentuk akibat adanya hubungan timbal balik antara komponen-komponen biotik dengan komponen abiotik. Dalam sebuah ekosistem, semua komponen memiliki peran dan kerja yang telah terstruktur sebagai sebuah kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Karena adanya peran inilah maka ssatu sama lain sangat bergantung dan saling mempengaruhi.

Berdasarkan sifatnya ekosistem dihuni oleh dua komponen yakni :

  • komponen abiotik yaitu gas, tanah, air dan lain-lain.
  • komponen biotik yaitu semua mahluk hidup yang ada pada ekosistem tersebut.

Berdasarkan Trophic Level atau tingkatan makan-memakan pada rantai makanan, ekosistem memiliki dua komponen yakni :

  • Autotrophic : organisme yang mampu mensistesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dari bahan-bahan anorganik sederhana dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun (klorofil).
  • Heterotropic : menyusun kembali dan menguraikan bahan-bahan organik kompleks yang telah mati ke dalam senyawa anorganik sederhana.

Setiap ekosistem mempunyai kekhasan dan sudah pasti berbeda satu dengan yang lain. Ini dikarenakan oleh beberapa faktor yakni :

  • Perbedaan kondisi iklim (hutan hujan, hutan musim, hutan savana).
  • Perbedaan letak dari permukaan laut, topografi, dan formasi geologik (zonasi pada pegunungan, lereng pegunungan yang curam, lembah sungai).
  • Perbedaan kondisi tanah dan air tanah (pasir, lempung, basah, kering).

Selain akibat adanya faktor-faktor tersebut, ekosistem juga dapat dibedakan berdasarkan proses terjadinya yaitu :

  • Ekosistem alam:  laut, sungai, hutan alam, danau alam, dan lainnya.
  • Ekosistem buatan : sawah, kebun, hutan tanaman, tambak, bendungan (misalnya waduk Jatiluhur).

Berdasarkan tempat atau wilayah ekosistem itu berada, dibedakan menjadi :

  • Ekosistem terestris (daratan)
  1. Ekosistem hutan.
  2. Ekosistem padang rumput.
  3. Ekosistem gurun.
  4. Ekosistem anthropogen atau buatan (sawah, kebun, dan lainnya).
  1. Ekosistem air tawar, misalnya kolam, danau, sungai, dan lainnya.
  2. Ekosistem lautan.
  1. EKOSISTEM LAUT TROPIS

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa ekosistem merupakan sebuah sistem interaksi antara komponen biotik dengan abiotik. Maka dapat disimpulkan bahwa ekologi laut tropis adalah sebuah sistem interaksi komponen biotik dan abiotik yang terjadi di lingkungan laut tropis yakni lingkungan perairan laut yang terdapat pada garis lintang 23,5­­­0 LS – 23,50 LU.

Laut tropik memiliki kekhasan atau karkateristik yang tidak dimiliki oleh laut subtropik. Karakteristik-karakteristk terssebut antara lain :

  • Variasi produktifitas
  1. Laut Tropis: sinar matahari terus menerus sepanjang tahun (hanya ada dua musim, hujan dan kemarau), kondisi optimal bag produksi fitoplankton dan konstant sepanjang tahun.
  2. Laut Subtropis: intensitas sinar matahari bervariasi menurut musim (dingin, semi, panas dan gugur). Tingkat  produktifitas akan berbeda pada setiap musim. Musim semi (tinggi), dingin (sangat rendah).
  3. Laut Kutub: masa produktifitas sangat pendek (Juli atau Agustus), musim panas (fitoplankton tumbuh).
  • Jaring-jaring makanan dan struktur trofik komunitas pelagik berbeda pada tiga daerah geografik (laut tropik, subtropik, kutub).
  • Secara umum terdiri dari algae, herbivora, penyaring, predator dan predator  tertinggi
  • Jumlah dan jenis masing-masing tingkat trofik berbeda, yaitu laut tropik yang paling banyak, diikuti oleh laut subtropik dan terakhir laut kutub.
  • Laut Tropik : predator  tertinggi (tuna, lansetfish, setuhuk, hiusedangdanhiubesar), predator lainnya : cumi-cumi, lumba-lumba.
  • LautSubtropik : predator  tertinggi (lumba-lumba, anjing laut dan singa laut, paus, burung-burung laut), predator lainnya : salem, cumi-cumi.
  • LautKutub : predator  tertinggi (paus), predator lainnya: anjing laut, singa laut.
  1. NICHE (RELUNG)

Dalam sebuah ekosistem, setiap mahluk hidup memiliki peran tersendiri yang merupakan profesinya di dalalam ekosistem tersebut. Konsep yang tidak hanya menekankan pada masalah tempat dimana ekosistem terbentuk dikenal dengan nama relung atau niche. Selain tempat dimana ekosistem terbentuk, niche juga menitikberatkan masalah profesi mahluk hidup dalam ekosistem dan posisinya pada gradient lingkungan.

Niche meliputi juga apa yang dikerjakan mahluk hidup sebagai salah satu komponen ekosistem.

Dalam sebuah ekosistem yang terdapat beberapa populasi di dalamnya, maka akan terjadi interaksi antara individu dan populasi tersebut. Hubungan tersebut disebut hukum interaksi. Hukum interaksi tersebut meliputi :

  • Interaksi netral yaitu hubungan yang saling tidak berpengaruh satu sama lain. Misalnya hubungan antara kambing dan tikus.
  • Interaksi kompetisi yaitu hubungan antara komponen ekosistem yang saling bersaing satu sama lain untuk tujuan yang sama. Misalnya kerbau dan kambing yang sama-sama bersaing mengkonsumsi rumput. Atau harimau dan singa yang sama-sama berburu mangsa.
  • Interaksi predasi yaitu hubungan dimana terjadi peristiwa memangsa dan dimangsa antara komponen ekosistem. Misalnya harimau memangsa kijang.
  • Interaksi simbiosis mutualisme yaitu hubungan antar komponen ekosistem yang saling menguntungkan satu sama lain. Misalnya hubungan antara kerbau dengan burung yang memakan kutu di tubuh kerbau, kerbau diuntungkan dengan tidak adanya kutu dan burung diuntungkan karena mendapat makanan.
  • Interaksi simbiosis komensalisme yaitu hubungan antar komponen ekosistem dimana salah satu pihak diuntungkan, sedangkan pihak lain tidak diuntungkan dan tidak pula dirugikan. Misalnya hubungan antara anggrek yang menempel pada tumbuhan.
  • Interaksi simbiosis parasitisme yaitu hubungan antar kompoen ekosistem dimana salah satu pihak diuntungkan, sedangkan pihak lain dirugikan. Misalnya hubungan antara benalu dan tumbuhan.
  • Hubungan antibiosa atau amensalisme yaitu hubungan antar komponen ekosisem dimana salah satu pihak dapat mengahmbat kehidupan yang lain. Misalnya hubungan antara alelopaty dari gulma.

Dalam sebuah ekosistem juga dikenal istilah suksesi. Suksesi dibagi menjadi dua yakni :

  • Suksesi primer, organisme mulai menempati wilayah baru yang belum ada kehidupan contohnya delta.
  • Sekunder, terjadi setelah komunitas yang ada menderita gangguan yang besar sebagai contoh sebuah komunitas klimaks (stabil) hancur karena terjadinya kebakaran hutan.

Ada tidaknya sebuah ekosistem dipengaruhi oelh faktor-faktor tertentu, faktor-faktor inilah yang menentukan apakah ekosistem akan tetap terjaga kelangsungannya atau tidak. Faktor-faktor yang dimaksud di atas disebut faktor pembatas.

Faktor pembatas dalam sebuah ekosistem adalah sebagai berikut :

  • Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup pada dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, suhu atau nutrien dalam jumlah minimum dan maksimum.
  • Dalam ekologi tumbuhan faktor lingkungan sebagai faktor ekologi dapat dianalisis menurut bermacam-macam faktor. Satu atau lebih dari faktor-faktor tersebut dikatakan penting jika dapat mempengaruhi atau dibutuhkan, bila terdapat pada taraf minimum, maksimum atau optimum menurut batas-batas toleransinya.
  • Tumbuhan untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik membutuhkan sejumlah nutrien tertentu (misalnya unsur-unsur nitrat dan fosfat) dalam jumlah minimum. Dalam hal ini unsur-unsur tersebut sebagai faktor ekologi berperan sebagai faktor pembatas.
  • Pada dasarnya secara alami kehidupannya dibatasi oleh : jumlah dan variabilitas unsur-unsur faktor lingkungan tertentu (seperti nutrien, suhu udara) sebagai kebutuhan minimum, dan batas toleransi tumbuhan terhadap faktor atau sejumlah faktor lingkungan.
  1. SIKLUS BIOGEOKIMIA

Setiap mahluk hidup yang ada di bumi ini, tersusun atas materi. Dalam proses kehidupan dalam subuah ekosistem, materi yang menyusun mahluk hidup ini dapat mengalir dan dimanfaatkan oleh organisme lain. Aliran materi ini berhubungan dengan sistem rantai makanan yang terjadi dalam ekosistem tersebut. Artinya, apabila suatu organisme mati, maka materi yang menyusunnya akantetap mengalir dalam rantai makanan dan dimanfaatkan oleh organisme lain. Sistem aliran materi in berlangsung  terus-menerus sehingga dapat sikatakan sebuah siklus atau daur.

Biogeokimia adalah perubahan dari biosfer yang hidup dan tak hidup yang menyangkut materi. Siklus biogeokimia atau siklus organik anorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik.

Siklus biogeokimia ini berperan dalam mengembalikan setiap unsur yang menyangkut materi telah terpaka dan menjadikannya dapat dipakai kembali oleh mahluk hidup. Dalam prosesnya siklus ini melibatkan juga organisme-organisme itu sendiri. Unsur-unsur yang terlibat dalam siklus biogeokimia ini hanya sebagian dari sekian banyak unsur yang terdapat di dunia. Dan dalam kehidupan, hanya 30-40% unsur dari kurang lebih 114 unsur yang ada dan diketahui.

Siklus biogeokimia ini melibatkan materi, dalam hal ini materi tersebut dapat juga berupa nutrien. Nutrien-nutrien inilah yang dimanfaatkan oleh mahluk hidup sebagai salah sau sumber energi untuk tubuhnya. Nutrien masuk ke laut melalui beberapa cara yaitu :

  • Weathering
  • Atmospheric Input
  • Biological Nitrogen Fixation
  • Immigration

Selain dapat masuk ke lingkungan perairan, nutrien juga bisa keluar meninggalkan lingkungan perairan yaitu dengan cara :

  • Erosion
  • Leaching, intrusi
  • Gaseous Losses, pembuangan berupa gas
  • Emigration and Harvesting

Diantara beberapa unsur yang senantiasa dimanfaatkan oleh mahluk hidup di muka bumi ini, ada beberapa unsur yang sangat dominan dan penting sekali dalam kehidupan organisme. Unsur-unsur tersebut adalah :

  • Nitrogen
  • Fosfor
  • Oksigen
  • Karbon

Setiap unsur penting tersebut mempunyai siklus masing-masing yang berbeda satu sama lain.

  1. Siklus Nitrogen

Nitrogen berjumlah hampir mencapai 80% di Atmosfer. Bentuk atau komponen Nitrogen di atmosfir dapat berbentuk ammonia (NH3), molekul nitrogen (N2), dinitritoksida (N2O), nitrogenoksida (NO), nitrogendioksida (NO2), asamnitrit (HNO2), asamnitrat (HNO3), basaamino (R3-N) dan lain-lain. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hidrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/petir (elektrisasi). Tumbuhan memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3), ionnitrit (N02-), dan ionnitrat (N03-).

  1. Siklus Fosfor

Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfatorganik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi.

  1. Siklus Oksigen dan Karbon

Merupakan siklus biogeokimia yang terbesar. Ada 3 hal yang terjadi pada karbon:

  • Tinggal dalam tubuh,
  • Respirasi oleh hewan
  • Sampah/sisa

45% digunakan untuk pertumbuhan, 45% untuk respirasi, dan 10% untuk DOC, Karbon masuk ke perairan melalui proses difusi.

  1. PENGELOLAAN SUMBER DAYA PESISIR DAN  LAUTAN SECARA TERPADU

Sumber daya pesisir dan lautan merupakan salah sektor yang memerlukan manajemen atau pengelolaan yang baik. Agar eksplorasi dan pemanfaatan sumber daya pesisir dan lautan dapat membuahkan hasil yang maksimal. Atas dasar pemikiran tersebut maka dibuatlah sebuah sistem pengelolaan sumber daya pesisir dan lautan secara terpadu (Integrated Coastal Zone Management).

Integrated Coastal Zone Management adalah Pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pesisir dengan cara melakukan penilaian secara menyeluruh. (Sorensen & Mc Creary dalam Dahuri 2001).

Indonesia memiliki potensi sumber daya pesisir dan laut yang luar biasa yakni :

  • Indonesia merupakan negara kepulauan (sekitar 17.000 buah pulau)
  1. Wilayah pesisir dan laut luas (3,1 km2 dan ZEE 2,7 km2)
  2. Garis pantai memuat habitat pantai yang sangat bervariasi, 81 km, kedua terpanjang setelah Canada
  3. Terumbu karang (600 dari 800 spesies)
  4. Mangrove (40 spesies mangrove sejati dari 50 spesies)
  5. Lamun (12 spesies)
  6. Rumput Laut (56 spesies)
  7. Ikan (6,6 juta ton/tahun)
  • Terumbu karang menyediakan berbagai barang dan jasa untuk makanan dan mata pencaharian, pariwisata, sumber bahan obat dan kosmetik, habitat Perlindunga dan bertelur.
  • Mangrove dapat berperan sebagai nursery ground, spawning, dan feeding ground  banyak spesiesikan dan udang dan memberikan perlindungan terhadap gelombang.
  • Lamun/seagrass berperan sebagai nursery ground, daerah pencarian makan bagi mamalia laut .
  • Rumput laut/seaweed berperan sebagai bahan pangan dan obat-obatan.

PESISIR DAN LAUTAN

Pesisir adalah Wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang, dan ke arah laut meliputi daerah papaan benua. Perencanaan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Sektoral oleh satu instansi pemerintah untuk tujuan tertentu misal perikanan, konflik kepentingan. Perencanaan Terpadu: mengkoordinasikan mengarahkan berbagai aktivitas kegiatan. Terprogram untuk tujuan keharmonisan, optimal antara kepentingan lingkungan, pembangunan ekonomi dan keterlibatan masyarakat, pengaturan tataruang.

Lautan, merupakan satu kesatuan dari permukaan, kolom air sampai ke dasar dan bawah dasar laut. Di luar batas wilayah teritorial (3 sampai 12 mil) sbagai wilayah laut. Estuaria adalah teluk di pesisir yang sebagian tertutup, tempat air tawar dan air laut bertemu dan becampur

  1. EKOSISTEM DI LAUT TROPIS
    1. Ekosistem Terumbu Karang

Luas terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai 60.000 km2, namun hanya 6,2% saja yang kondisinya baik. Tekanan terhadap keberadaan terumbu karang sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan manusia. Kerusakan terumbu karang banyak ditentukan oleh aktivitas di daratan.

Terumbu karang berperan penting bagi pertumbuhan sumberdaya perikanan (sebagai feeding ground, fishing ground, spawning ground and nursery ground). Mencegah terjadinya pengikisan pantai (abrasi). Sebagai daya tarik wisata bahari. Secara global terumbu karang berfungsi sebagai pengendap kalsium yang mengalir dari sungai ke laut. Sebagai penyerap karbondioksida dan Gas Rumah Kaca (GRK) lainnya.

Untuk dapat hidu di suatu perairan, karang meiliki standar tertentu untuk perairan tersebut yaitu :

  1. Air dengan transparansi tinggi (jernih)
  2. Suhu air yang berkisar antara 23 – 32 derajat celcius
  3. Kedalaman perairan kurang dari 40 m
  4. Salinitas yang berkisar antara 32 – 36 per mil
  5. pH 7,5 – 8,5
  6. Ekosistem Padang Lamun

Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidupnya terbenam di dalam laut. Padang lamun ini merupakan ekosistem yang mempunyai produktivitas organik yang  tinggi. Fungsi ekologi yang penting yaitu sebagai feeding ground, spawning ground dan nursery ground beberapa jenis hewan yaitu udang dan ikan baranong, sebagai peredam arus sehingga perairan dan sekitarnya menjadi tenang.

Kondisi lamun di perairan indonesia terancam oleh beberapa aktivitas seperti :

  1. Pengerukan dan pengurugan dari aktivitas pembangunan (pemukiman pinggir laut, pelabuhan, industri dan saluran navigasi)
  2. Pencemaran limbah industri terutama logam berat dan senyawa organoklorin
  3. Pembuangan sampah organik
  4. Pencemaran limbah pertanian
  5. Pencemaran minyak dan industri
  6. Ekosistem Mangrove

Hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Luas hutan mangrove di Indonesia merupakan yang terluas di dunia (2,5-3,5 juta Ha,18-23 % luas mangrove di dunia dan lebih luas dari Brasil).

Fungsi ekologis:

  1. Sebagai peredam gelombang (termasuk gelombang tsunami), angin dan badai
  2. Melindungi daerah pantai dari bahaya abrasi
  3. Sebagai penyerap nutrien organik, penahan lumpur dan perangkap sedimen
  4. Penghasil detritus yang merupakan hasil dekomposisi dari serasah mangrove
  5. Sebagai daerah asuhan, mencari makan dan berkembangbiak ikan, udang dan hewan liar lainnya
  6. Bentuk Pengelolaan (manfaat dan konservasi): Silvofishery, minawana. Banyak berkembang di Jawa dan Sulawesi Selatan

Fungsi ekonomi : sebagai penghasil kayu untuk bahan bangunan, kayu bakar, bahan baku arang, tanin, obat-obatan, energi/biofuel, dan pariwisata.

UNTUK MATERI LENGKAPNYA BISA DIDOWNLOAD DI SINI : materi 1, materi 2, materi 3, materi 4

EKOSISTEM MANGROVE

Aliran Energi dan Rantai Makanan Ekosistem Mangrove di Pulau Jawa

Rochana, Erna.Ekosistem Mangrove dan Pengelolaannya di Indonesia.www.irwantoshut.com

Ekosistem mangrove sebagai ekosistem peralihan antara darat dan laut telah diketahui mempunyai berbagai fungsi, yaitu sebagai penghasil bahan organik, tempat berlindung berbagai jenis binatang, tempat memijah berbagai jenis ikan dan udang, sebagai pelindung pantai, mempercepat pembentukan lahan baru, penghasil kayu bangunan, kayu bakar, kayu arang, dan tanin (Soedjarwo, 1979). Masing-masing kawasan pantai dan ekosistem mangrove memiliki historis perkembangan yang berbeda-beda. Perubahan keadaan kawasan pantai dan ekosistem mangrove sangat dipengaruhi oleh faktor alamiah dan faktor campur tangan manusia.

(Dikutip dari : Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Ekosistem Mangrove, Tarsoen Waryono)

Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan ekosistem yang unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan mangrove antara lain : pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota perairan, serta sebagai pengatur iklim mikro. Sedangkan fungsi ekonominya antara lain : penghasil keperluan rumah tangga, penghasil keperluan industri, dan penghasil bibit.

Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan yang terletak di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih dipengaruhi oleh pasang surut, dengan kelerengan kurang dari 8% (Departemen Kehutanan, 1994 dalam Santoso, 2000).

Menurut Nybakken (1992), hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Hutan mangrove meliputi pohon- pohon dan semak yang tergolong ke dalam 8 famili, dan terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga : Avicennie, Sonneratia, Rhyzophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lummitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus (Bengen, 2000).

Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas (pasang surut air laut); dan kedua sebagai individu spesies (Macnae, 1968 dalam Supriharyono, 2000). Supaya tidak rancu, Macnae menggunakan istilah “mangal” apabila berkaitan dengan komunitas hutan dan “mangrove” untuk individu tumbuhan. Hutan mangrove oleh masyarakat sering disebut pula dengan hutan bakau atau hutan payau. Namun menurut Khazali (1998), penyebutan mangrove sebagai bakau nampaknya kurang tepat karena bakau merupakan salah satu nama kelompok jenis tumbuhan yang ada di mangrove.

Ciri dan Karakteristik Ekosistem Mangrove

Ekosistem mangrove hanya didapati di daerah tropik dan sub-tropik. Ekosistem mangrove dapat berkembang dengan baik pada lingkungan dengan ciri-ciri ekologik sebagai berikut:

(a). Jenis tanahnya berlumpur, berlempung atau berpasir dengan bahan-bahan yang berasal dari lumpur, pasir atau pecahan karang;

(b). Lahannya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari maupun hanya tergenang pada saat pasang purnama. Frekuensi genangan ini akan menentukan komposisi vegetasi ekosistem mangrove itu sendiri;

(c). Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat (sungai, mata air atau air tanah) yang berfungsi untuk menurunkan salinitas, menambah pasokan unsur hara dan lumpur;

(d). Suhu udara dengan fluktuasi musiman tidak lebih dari 5ºC dan suhu rata-rata di bulan terdingin lebih dari 20ºC;

(e). Airnya payau dengan salinitas 2-22 ppt atau asin dengan salinitas mencapai 38 ppt;

(f). Arus laut tidak terlalu deras;

(g). Tempat-tempat yang terlindung dari angin kencang dan gempuran ombak yang kuat;

(h). Topografi pantai yang datar/landai.

Habitat dengan ciri-ciri ekologik tersebut umumnya dapat ditemukan di daerah-daerah pantai yang dangkal, muara-muara sungai dan pulau-pulau yang terletak pada teluk.

Fungsi Dan Kerusakan Ekosistem Mangrove

Ekosistem mangrove dikategorikan sebagai ekosistem yang tinggi produktivitasnya (Snedaker, 1978) yang memberikan kontribusi terhadap produktivitas ekosistem pesisi (Harger, 1982). Dalam hal ini beberapa fungsi ekosistem mangrove adalah sebagai berikut:

(a). Ekosistem mangrove sebagai tempat asuhan (nursery ground), tempat mencari makan (feeding ground), tempat berkembang biak berbagai jenis krustasea, ikan, burung biawak, ular, serta sebagai tempat tumpangan tumbuhan epifit dan parasit seperti anggrek, paku pakis dan tumbuhan semut, dan berbagai hidupan lainnya;

(b). Ekosistem mangrove sebagai penghalang terhadap erosi pantai, tiupan angin kencang dan gempuran ombak yang kuat serta pencegahan intrusi air laut;

(c). Ekosistem mangrove dapat membantu kesuburan tanah, sehingga segala macam biota perairan dapat tumbuh dengan subur sebagai makanan alami ikan dan binatang laut lainnya;

(d). Ekosistem mangrove dapat membantu perluasan daratan ke laut dan pengolahan limbah organik;

(e). Ekosistem mangrove dapat dimanfaatkan bagi tujuan budidaya ikan, udang dan kepiting mangrove dalam keramba dan budidaya tiram karena adanya aliran sungai atau perairan yang melalui ekosistem mangrove;

(f). Ekosistem mangrove sebagai penghasil kayu dan non kayu;

(g). Ekosistem mangrove berpotensi untuk fungsi pendidikan dan rekreasi .

Secara umum, ekosistem mangrove mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan yang rendah. Di Indonesia tercatat 120 jenis tumbuhan mangrove dan 90 jenis di antaranya ditemukan di Jawa. Keanekaragaman faunanya untuk Pulau Jawa informasinya masih terpisah-pisah. Balen (1988) mencatat 167 jenis burung terestrial di ekosistem mangrove Pulau Jawa; di Cagar Alam Muara Angke ditemukan 43 jenis burung (Atmawidjaja & Romimohtarto, 1999), di ekosistem mangrove Teluk Naga ternyata 23 jenis burung air yang memilih daerah tersebut sebagai tempat mencari pakan (Widodo & Hadi, 1990), di ekosistem mangrove delta sungai Cimanuk, menurut Mustari (1992) tercatat 28 jenis burung air (12 jenis burung wader migran dan 11 jenis di antaranya termasuk jenis burung yang dilindungi), di kawasan pantai timur Surabaya dengan luas 3.200 hektar, menurut Anonymous (1998) ekosistem mangrove yang ada mampu mengakumulasi logam berat pencemar dan sebagai tempat persinggahan 54 jenis burung air dan burung migran; di ekosistem mangrove Tanjung Karawang ditemukan 52 jenis burung (Sajudin et al., 1984), 3 jenis tikus (Munif et al., 1984), 7 jenis moluska, 14 jenis krustasea (Hakim et al., 1984), dan 9 jenis nyamuk (Rusmiarto et al., 1984); di daerah mangrove Pulau Pari tercatat 24 jenis ikan (Hutomo & Djamali, 1979) dan 28 jenis krustasea (Toro, 1979), di pantai barat Pulau Handeleum ditemukan 12 jenis Gastropoda mangrove dan 20 jenis di pantai utara Pulau Penjaliran (Yasman, 1999); di Pulau Dua, Pulau Rambut dan Tanjung Karawang ditemukan 6 jenis ular (Supriatna, 1984).

(Dikutip dari www.irwantoshut.com)

Seperti ekosistem pada umumnya, ekosistem mangrove memiliki aliran rantai makanan, materi, dan energi yang spesifik dan berbeda dengan ekosistem lainnya. Hal itu dikarenakan ekosistem mangrove ditinggali oleh organisme yang khas seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Berikut contoh gambar ekosistem mangrove di berbagai tempat :

mangrove1

mangrove2

Contoh aliran energi dan rantai makanan pada ekosistem mangrove :

BAGAN ALIR RANTAI MAKANAN DAN ALIRAN ENERGI PADA EKOSISTEM MANGROVE DI PULAU JAWA


Di gambar tersebut dijelaskan bahwa, mangrove pada ekosistem berlaku sebagai produsen utama, kemudian daun-daun dan bagian tubuh mangrove yang telah membusuk akan dimanfaatkan oleh detrivor sebagai bahan makanan. Pada tingkatan trofik selanjutnya, detrivor dimakan oleh ikan, bivalvia dan crustacean kecil yang kemudian dimangsa lagi oleh ikan dan crustacean yang berukuran lebih besar. Rantai makanan ini terus berlangsung. Sampai pada akhirnya organisme-organisme tersebut mati dan kembali dimanfaatkan oleh detrivor sebagai bahan makanan.

Mangrove yang ada di Pulau jawa beragam di tiap daerah. Dan di tiap daerah itu pun memiliki organisme yang berbeda.

BAGAN ALIR EKOSISTEM MANGROVE

Rujukan

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Alih bahasa oleh M. Eidman., Koesoebiono., D.G. Bengen., M. Hutomo., S. Sukardjo. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.

Penulis

Jimy Kalther. Merupakan salah satu mahasiswa Program studi Ilmu Kelautan  Universitas Padjadjaran. Penulis tertarik kepada bidang Sedimentologi dan Geologi Kelautan.

Hendra Surianta Sembiring .Merupakan mahasiswa Program studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.Dunia Kelautan yang begitu luas  membuat penulis ingin menggali ilmu di bidang ini lebih dalam lagi, terutama di bidang penginderaan jauh dan sedimentologi.

Lumba-Lumba, Pintar dan Inspiratif

Lumba-lumba adalah mamalia laut yang sangat cerdas, selain itu sistem alamiah yang melengkapi tubuhnya sangat kompleks. Sehingga banyak teknologi yang terinspirasi dari lumba-lumba. (wikipedia.com)

Perlu anda ketahui, selain sangat cerdas, lumba-lumba juga sangat inspiratif. Percaya atau tidak, mahluk lucu ini telah melahirkan banyak penemuan yang terinspirasi darinya. Benarkah? Tentu saja. Contoh kecil, perenang handal dapat berenang dengan nyaman dan leluasa karena memakai pakaian yang dirangcang khusus untuk memperkecil gesekan antara tubuh dengan air, itu meniru dari struktur kulit lumba-lumba.

Selain itu, sistem sonar yang digunakan lumba-lumba saat berenang, untuk menghindari benturan dengan benda di sekitarnya, itu pun ditiru dalam pembuatan dan sistem kerja radar kapal selam. Betulkah? Jelas.

Tidak hanya itu, lumba-lumba pun ternyata dapat menyembuhkan seorang penderita autis dengan terapinya. Luar biasa.
Banyak lahi teknologi yang terinspirasi oleh lumba-lumba.

Namun, sungguh sangat disayangkan, keberadaan mereka di alam sudah sangat terbatas. jumlahnya semakin berkurang seiring berjalanya waktu. Dan itu semua akibat ulah manusia, tentunya ini harus dibayar mahal oleh para pelakunya. Bahkan ada jenis yang telah punah.

Berikut kisah punahnya salah satu jenis lumba-lumba yang saya kutip dari salah satu situs di internet :

KISAH PUNAHNYA LUMBA_LUMBA PUTIH

Sungai Yangtze yang agung. Sebuah wilayah perairan terluas dan terbesar di China merupakan habitat paling sempurna bagi lumba-lumba putih yang telah mendiami perairan ini selama 20 juta tahun.

Namun belakangan ini, perkembangan teknologi yang pesat di daerah ini telah membawa dampak yang terlalu berat bagi mamalia ini. Lumba-lumba putih China, yang juga disebut “Dewi Sungai Yangtze” dalam legenda China kuno, telah hidup berdampingan dengan manusia selama ribuan tahun.

Namun hubungan indah ini harus berakhir dengan tiba-tiba karena reformasi ekonomi yang membawa teknologi produksi baru serta polusi besar-besaran di Sungai Yangtze telah menyapu habis spesies unik ini.

Kini lumba-lumba putih Lipotes Vexillifer (dikenal dengan sebutan Baiji di China), hanya dapat dilihat dalam gambar. Sejumlah kecil kerangka hewan ini masih tersisa namun kini hanya tinggal dalam puisi. Dengan berat sekitar 220 pon dan panjang mencapai 8 kaki, makhluk kharismatik ini berenang mengitari sungai yang panjangnya 3.900 mil sambil mengeluarkan suara decit yang unik.

Meski indera penglihatan mereka tidak sempurna, namun lumba-lumba putih ini memiliki fenomena sensor jarak jauh yang memungkinkan mereka menemukan makanan dan secara efektif menyesuaikan pergolakan air di Sungai Yangtze. Di samping itu, hewan ini juga mengembangkan sebuah sistem sosial yang kompleks seperti setiap lumba-lumba memiliki bunyi khas tersendiri yang mampu berperan sebagai pengenal nama masing-masing.

Kisah kebesaran lumba-lumba putih di perairan timur ini merupakan kisah yang telah ada sejak dulu kala, namun, campur tangan manusia dalam beberapa tahun terakhir ini cukup membuat lumba-lumba bermulut besar ini menghilang dari bumi. Meningkatnya pencemaran di Sungai Yangtze, kecelakaan kapal, serta semakin berkurangnya persediaan makanan di Sungai Yangtze, sudah cukup membawa kondisi yang terlalu berat bagi lumba-lumba putih ini.

Diduga bahwa suara bising yang ditimbulkan oleh kapal motor yang melintas menyebabkan kepanikan di antara spesies-spesies, membuat beberapa di antara mereka terisolasi dari kelompoknya. Metode penangkapan ikan dengan menggunakan jaring listrik atau kail tajam termasuk juga yang mengancam kehidupan spesies-spesies yang tinggal dalam sungai ini.

Menurut catatan kuno dari Dinasti Han (202 tahun sebelum masehi – 220 tahun sesudah masehi), populasi lumba-lumba putih di kala itu sangat berlimpah. Berabad-abad kemudian, pada 1979, hewan ini ditempatkan pada daftar spesies yang terancam punah.

Pada 1990, populasi hewan ini telah menyusut hingga tersisa 200 ekor. Seiring dengan pembangunan “Bendungan Tiga Ngarai” pada 1994 serta peningkatan polusi yang pesat di Sungai Yangtze, populasi lumba-lumba putih yang hanya 200 ekor ini pun menurun drastis dari waktu ke waktu.

Pada 1998, lumba-lumba putih China diperkirakan hanya tersisa 7 ekor. Ketika pengairan “Bendungan Tiga Ngarai” mulai dioperasikan pada 2003, lumba-lumba putih ini sudah tidak terlihat lagi. Sejumlah penampakan langka dari lumba-lumba ini pun masih dipertanyakan kebenarannya.

Pada November 2007, diadakan sebuah ekspedisi untuk mencari lumba-lumba putih China yang masih hidup, hasilnya pun sangat menyedihkan. Selama tujuh bulan keberadaan lumba-lumba putih Sungai Yangtze ini dilacak dengan peralatan canggih, termasuk kamera dan mikrofon bawah laut, namun suara-suara ceria dari lumba-lumba ini tidak pernah terdengar, lumba-lumba putih telah meninggalkan dunia selamanya.

Kisah tragis dari lumba-lumba putih ini meninggalkan pelajaran yang mendalam bagi umat manusia. Tapi apakah ada yang peduli? Sungai Yangtze kini menjadi saksi bisu dari penderitaan salah satu spesies lainnya, Ikan Spatula. Seperti lumba-lumba putih China, Ikan Spatula juga hidup di perairan Yangtze selama jutaan tahun.

Meskipun demikian, para pengamat lingkungan hidup masih merasa minimnya tindakan pelestarian atas spesies tersebut. Banyak yang mengkhawatirkan spesies Ikan Spatula, beserta sejumlah spesies lainnya yang hidup di Sungai Yangtze, akan segera menemui nasib yang sama seperti lumba-lumba putih China. (Leonardo Vintini/The Epoch Times/pls)

Dikutip dari erabaru.net

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.