Lumba-Lumba, Pintar dan Inspiratif


Lumba-lumba adalah mamalia laut yang sangat cerdas, selain itu sistem alamiah yang melengkapi tubuhnya sangat kompleks. Sehingga banyak teknologi yang terinspirasi dari lumba-lumba. (wikipedia.com)

Perlu anda ketahui, selain sangat cerdas, lumba-lumba juga sangat inspiratif. Percaya atau tidak, mahluk lucu ini telah melahirkan banyak penemuan yang terinspirasi darinya. Benarkah? Tentu saja. Contoh kecil, perenang handal dapat berenang dengan nyaman dan leluasa karena memakai pakaian yang dirangcang khusus untuk memperkecil gesekan antara tubuh dengan air, itu meniru dari struktur kulit lumba-lumba.

Selain itu, sistem sonar yang digunakan lumba-lumba saat berenang, untuk menghindari benturan dengan benda di sekitarnya, itu pun ditiru dalam pembuatan dan sistem kerja radar kapal selam. Betulkah? Jelas.

Tidak hanya itu, lumba-lumba pun ternyata dapat menyembuhkan seorang penderita autis dengan terapinya. Luar biasa.
Banyak lahi teknologi yang terinspirasi oleh lumba-lumba.

Namun, sungguh sangat disayangkan, keberadaan mereka di alam sudah sangat terbatas. jumlahnya semakin berkurang seiring berjalanya waktu. Dan itu semua akibat ulah manusia, tentunya ini harus dibayar mahal oleh para pelakunya. Bahkan ada jenis yang telah punah.

Berikut kisah punahnya salah satu jenis lumba-lumba yang saya kutip dari salah satu situs di internet :

KISAH PUNAHNYA LUMBA_LUMBA PUTIH

Sungai Yangtze yang agung. Sebuah wilayah perairan terluas dan terbesar di China merupakan habitat paling sempurna bagi lumba-lumba putih yang telah mendiami perairan ini selama 20 juta tahun.

Namun belakangan ini, perkembangan teknologi yang pesat di daerah ini telah membawa dampak yang terlalu berat bagi mamalia ini. Lumba-lumba putih China, yang juga disebut “Dewi Sungai Yangtze” dalam legenda China kuno, telah hidup berdampingan dengan manusia selama ribuan tahun.

Namun hubungan indah ini harus berakhir dengan tiba-tiba karena reformasi ekonomi yang membawa teknologi produksi baru serta polusi besar-besaran di Sungai Yangtze telah menyapu habis spesies unik ini.

Kini lumba-lumba putih Lipotes Vexillifer (dikenal dengan sebutan Baiji di China), hanya dapat dilihat dalam gambar. Sejumlah kecil kerangka hewan ini masih tersisa namun kini hanya tinggal dalam puisi. Dengan berat sekitar 220 pon dan panjang mencapai 8 kaki, makhluk kharismatik ini berenang mengitari sungai yang panjangnya 3.900 mil sambil mengeluarkan suara decit yang unik.

Meski indera penglihatan mereka tidak sempurna, namun lumba-lumba putih ini memiliki fenomena sensor jarak jauh yang memungkinkan mereka menemukan makanan dan secara efektif menyesuaikan pergolakan air di Sungai Yangtze. Di samping itu, hewan ini juga mengembangkan sebuah sistem sosial yang kompleks seperti setiap lumba-lumba memiliki bunyi khas tersendiri yang mampu berperan sebagai pengenal nama masing-masing.

Kisah kebesaran lumba-lumba putih di perairan timur ini merupakan kisah yang telah ada sejak dulu kala, namun, campur tangan manusia dalam beberapa tahun terakhir ini cukup membuat lumba-lumba bermulut besar ini menghilang dari bumi. Meningkatnya pencemaran di Sungai Yangtze, kecelakaan kapal, serta semakin berkurangnya persediaan makanan di Sungai Yangtze, sudah cukup membawa kondisi yang terlalu berat bagi lumba-lumba putih ini.

Diduga bahwa suara bising yang ditimbulkan oleh kapal motor yang melintas menyebabkan kepanikan di antara spesies-spesies, membuat beberapa di antara mereka terisolasi dari kelompoknya. Metode penangkapan ikan dengan menggunakan jaring listrik atau kail tajam termasuk juga yang mengancam kehidupan spesies-spesies yang tinggal dalam sungai ini.

Menurut catatan kuno dari Dinasti Han (202 tahun sebelum masehi – 220 tahun sesudah masehi), populasi lumba-lumba putih di kala itu sangat berlimpah. Berabad-abad kemudian, pada 1979, hewan ini ditempatkan pada daftar spesies yang terancam punah.

Pada 1990, populasi hewan ini telah menyusut hingga tersisa 200 ekor. Seiring dengan pembangunan “Bendungan Tiga Ngarai” pada 1994 serta peningkatan polusi yang pesat di Sungai Yangtze, populasi lumba-lumba putih yang hanya 200 ekor ini pun menurun drastis dari waktu ke waktu.

Pada 1998, lumba-lumba putih China diperkirakan hanya tersisa 7 ekor. Ketika pengairan “Bendungan Tiga Ngarai” mulai dioperasikan pada 2003, lumba-lumba putih ini sudah tidak terlihat lagi. Sejumlah penampakan langka dari lumba-lumba ini pun masih dipertanyakan kebenarannya.

Pada November 2007, diadakan sebuah ekspedisi untuk mencari lumba-lumba putih China yang masih hidup, hasilnya pun sangat menyedihkan. Selama tujuh bulan keberadaan lumba-lumba putih Sungai Yangtze ini dilacak dengan peralatan canggih, termasuk kamera dan mikrofon bawah laut, namun suara-suara ceria dari lumba-lumba ini tidak pernah terdengar, lumba-lumba putih telah meninggalkan dunia selamanya.

Kisah tragis dari lumba-lumba putih ini meninggalkan pelajaran yang mendalam bagi umat manusia. Tapi apakah ada yang peduli? Sungai Yangtze kini menjadi saksi bisu dari penderitaan salah satu spesies lainnya, Ikan Spatula. Seperti lumba-lumba putih China, Ikan Spatula juga hidup di perairan Yangtze selama jutaan tahun.

Meskipun demikian, para pengamat lingkungan hidup masih merasa minimnya tindakan pelestarian atas spesies tersebut. Banyak yang mengkhawatirkan spesies Ikan Spatula, beserta sejumlah spesies lainnya yang hidup di Sungai Yangtze, akan segera menemui nasib yang sama seperti lumba-lumba putih China. (Leonardo Vintini/The Epoch Times/pls)

Dikutip dari erabaru.net

  1. bowz need help nih…..mohon dijawab..
    .efektivitas produktivitas primer di perairan tercemar di daerah upwelling bagaimana ?
    Mengingat upwelling sangat erat kaitannya dengan produktivitas primer .

    mohon dijawab..kalau bisa hari ini…!!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s